DAUN SALAM
(Eugenia polyantha)
Daun Salam Salam merupakan tumbuhan tingkat tinggi yang
mudah tumbuh pada daerah tropis. Salam banyak tumbuh di hutan dan dapat ditanam
di pekarangan rumah. Salam merupakan tumbuhan asli Indonesia yang telah
ditetapkan sebagai salah satu tumbuhan obat yang tergolong dalam klasifikasi
sebagai berikut :
Kingdom :
Plantae
Divisi :
Spermatophyta
Sub divisi :
Angiospermae
Kelas :
Dicotyledoneae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus :
Syzygium
Spesies : Syzygium
polyanthum (Wight) Walp.
Bagian tanaman salam yang paling banyak dimanfaatkan
adalah bagian daunnya. Daun salam memiliki beberapa karakteristik seperti
berdaun tunggal, pertulangan menyirip, letak berhadapan, berbentuk lonjong
sampai elips atau bundar telur, dan berwarna hijau. Daun salam memiliki tangkai
yang panjangnya 0.5-1 cm, panjang daun 5-15 cm dan lebar daun 3-8 cm. Daun
salam mengandung senyawa aktif seperti minyak atsiri, tanin, flavonoid dan
eugenol yang berfungsi sebagai antioksidan dan antijamur. Kandungan gizi dalam
100 gram daun salam diantaranya 400,00 energi, 57,00 zat besi dan 8214,00
vitamin A. Daun ini sering dimanfaatkan masyarakat sebagai bumbu dapur serta
dapat digunakan obat diare, diabetis, gatal-gatal, gangguan pencernaan dan
lemah lambung. Rebusan daun salam yang diminum setiap hari, dipercaya dapat
menurunkan kolesterol darah. Oleh Badan
POM, daun salam ditetapkan sebagai salah satu dari sembilan tanaman obat
unggulan yang telah diteliti atau diuji secara klinis untuk menanggulangi
masalah kesehatan tertentu.
Dengan
berbagai kandungan zat
yang terdapat pada tanaman salam,
diharapkan tanaman ini di samping sebagai penyedap alami pada masakan dapat
juga berfungsi menurunkan kadar kolesterol yang tinggi, dengan mekanisme kerja
yaitu, merangsang sekresi cairan empedu sehingga kolesterol akan keluar bersama
cairan empedu menuju usus, dan merangsang sirkulasi darah sehingga mengurangi
terjadinya pengendapan lemak pada pembuluh darah. Selain daun yang dapat
dimanfaatkan untuk masakan dan obat herbal, oleh Manganti (2011) dijelaskan
bahwa kulit pohon salam berwarna cokelat muda keabu-abuan, biasa digunakan oleh
nelayan sebagai pewarna jala ikan atau juga untuk pewarna anyaman bambu. Bunga
salam kecil, berwarna putih kecoklatan, tumbuh pada malai di ujung ranting.
Buah salam berupa beri, bentuk, karakter, dan warnanya mirip buah jamblang
(Eugenia cuminii) tetapi ukurannya lebih kecil sekitar 0,6cm dengan panjang
1cm. Buah salam bisa dikonsumsi dan enak dimakan, karena daging buahnya sangat
tipis maka tidak pernah dimanfaatkan secara ekonomis. Buah yang sudah tua yang
tidak dimakan oleh burung akan berjatuhan di bawah tajuk, biasanya buah ini
dikumpulkan dan disemai (Foragri, 2012). Dari uraian tersebut tanaman salam
dapat dikatakan sebagai tanaman multi fungsi.
Daun salam mengandung zat bahan warna, zat samak dan
minyak atsiri yang bersifat antibakteri. Zat tanin yang terkandung bersifat
menciutkan (astringent). Manfaat daun secara tradisional, daun salam digunakan
sebagai obat sakit perut. Daun salam juga dapat digunakan untuk menghentikan
buang air besar yang berlebihan. Pohon salam bisa juga dimanfaatkan untuk
mengatasi asam urat, stroke, kolesterol tinggi, melancarkan peredaran darah,
radang lambung, gatal gatal, dan kencing manis (KloppenburgVersteegh, 1983).
Daun salam mempunyai rasa kelat, wangi, dan bersifat
astringent. Untuk pengobatan bagian daun yang paling banyak digunakan, bagian
tanaman lain yang digunakan sebagai obat adalah akar, buah, dan kulit batang.
Pengobatan secara tradisional menggunakan daun salam untuk mengobati kolesterol
tinggi, kencing manis, hipertensi, gastritis, dan diare (Unp, 2010).
Di
beberapa daerah Indonesia, daun salam dikenal sebagai salam (Jawa, Madura,
Sunda); gowok (Sunda); kastolam (kangean, Sumenep); manting (Jawa), dan meselengan
(Sumatera). Nama yang sering digunakan dari daun salam, di antaranya ubar
serai, (Malaysia); Indonesian bay leaf, Indonesian laurel, Indian bay leaf
(Inggris); Salamblatt (Jerman) (Dalimartha, 2005; Utami dan Puspaningtyas,
2013).
Manfaat
Daun Salam untuk Kesehatan
Tanaman salam dikenal sebagai salah satu tanaman yang
sering dimanfaatkan masyarakat untuk pengobatan alternatif. Dari beberapa
penelitian yang telah dilakukan oleh Dorlan (2002) Boyer dan Liu (2004),
Hardhani (2008), Pidrayanti (2008), dan Muhtadi (2010) dapat ditunjukkan
tentang berbagai manfaat dari daun salam.
1.
Mengurangi
dislipidemia, khususnya hipertrigliseridemia. Hardhani (2008) pemberian ekstrak
daun salam pada tikus putih jantan galur Wistar hiperlipidemia dengan dosis
bertingkat yang diperoleh dari daun salamsegar sebesar 0,18 gram, 0,36 gram,
dan 0,72 gram setiap hari selama 15 hari,dapat menurunkan kadar trigliserida
serum tikus tersebut, dengan penurunan paling besar pada pemberian dosis 0,72
gram daun salamsegar. Adanya penurunan kadar trigliserida setelah pemberian
ekstrak daun salam membuktikan bahwa terdapat senyawasenyawa aktif dalam daun
salam yang mampu menurunkan kadar trigliserida serum. Hanya dalam kurun waktu
yang singkat yaitu selama 15 hari, pada dosis 0,72 gam/hari didapatkan rerata
kadar trigliserida yang lebih rendah dari kadar trigliserida hewan coba pada awal masa adaptasi (pengambilan darah
hari ke-0).Senyawa-senyawa yang diduga
mampu menurunkan kadar nitrigliserida tersebut adalah niasin, serat, tannin,
dan vitamin C. Mekanisme kerja tannin yaitu bereaksi dengan protein mukosa dan
sel epitel usus sehingga menghambat penyerapan lemak (Dorlan, 2002).
Berdasarkan hal tersebut maka daun salam berpotensi untuk dipakai sebagai bahan
obat untuk menurunkan kadar trigliserida pada manusia.
2.
Menurunkan
kadar LDL Pemberian diet ekstrak
daun salamperoral pada tikus
wistar hiperlipidemia dengan dosis 0,18 g daun salam segar/hari; 0,36 g
daun salam segar/hari; 0,72 g daun salam segar/ hari selama 15 hari dapat menurunkan kadar low density lipoprotein
(LDL) kolesterol serum tikus secara
bermakna (p<0,05). Semakin
tinggi dosis yang diberikan semakin tinggi penurunan kadar LDL kolesterol serum
tikus (Pidrayanti, 2008). Daun salamdapat
menurunkan kadar LDL
kolesterol serum secara bermakna sesuai dengan peningkatan dosis yang diberikan
karenadaun salammengandung senyawa aktif seperti quercetin yang terkandung
dalam flavonoid selain sifatnya sebagai
antioksidan, dapat menghambat
sekresi dari Apo-B100
ke intestinum, sehingga jumlah
Apo B akan mengalami penurunan. Apo-B
merupakan pembentuk VLDL dan LDL. Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap
40.000 wanita dewasa di
Amerika Serikat, didapatkan
bahwa wanita yang
mengkonsumsi makanan dengan kandungan flavonoid, 35% di antaranya
terbebas dari penyakitpenyakit kardiovaskuler. Kandungan quercetin
yang tinggi dalam
suatu makanan dapat memodulasi aktivitas dari platelet
untuk mencegah timbulnya penyakit kardiovaskuler (Boyer dan Liu,).
3.
Potensi
menurunkan kadar asam urat. Hasil penelitian Muhtadi, dkk (2010) berdasarkan
data uji praklinik antihiperurisemia, ekstrak daun salam dan jinten hitam
(Nigella sativa Linn) dan kombinasinya dengan dosis tunggal 200 mg/kgBB
terbukti berpotensi menurunkan kadar asam uratdalam darah mencit putih jantan
galur BalbC yang diinduksi potassium oksonat dengan prosentase penurunan kadar
asam urat berturut-turut adalah 79,35%, 61,29%, dan 72,90%. Sedangkan penurunan
oleh allopurinol sebesar 93,55%. Dari
hasil standarisasi ekstrak air daun salam adalah parameter kadar fenolat total
dalam ekstrak daun salam sebesar 1,08% dan total flavonoid mempunyai kadar
0,196%. Dan hasil esktrak air jinten hitam kadar fenolat total sebesar 0,66%
dan kadar flavonoid total sebesar 0,40%. Senyawa identitas dari ekstrak daun
salam adalah fluoretin sedangkan ekstrak jinten hitam adalah luteolin.
Perbedaan senyawa aktif tersebutlah yang membedakan potensiasi penurunan kadar
asam urat darah mencit putih jantan. Dari hasil yang diperoleh lebih poten
senyawa fluoretin dari ekstrak daun salam.
Manfaat Daun Salam untuk Penyedap Masakan
Daun salam merupakan salah satu daun yang dapat
dimanfaatkan sebagai rempah atau bumbu dapur yang berfungsi menjadi pengharum
dan penyedap alami aneka masakan. Di Indonesia daun salam bisa dipakai pada
masakan jenis berkuah maupun tidak berkuahdan dengan penambahan santan atau
tidak bersantan. Cara menggunakan daun salam pada masakan yaitu mencampurkan
dua atau tiga helai daun segar atau kering ke dalam masakan misalnya daging,
ikan, nasi, tahu, tempe, atau sayur mayur sehingga aroma masakan menjadi lebih
harum dan sedap.
\
DAFTAR PUSTAKA
Adjirni. 1999. Warta
Tumbuhan Obat Indonesia. Volume
5, Nomor 3.
Jakarta:Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia.
Jeanelle, Boyer and Hai, Liu Rui. 2004. Apple phytochemical and their health
benefits. Nutrition journal. 3:5.
Dalimartha, S. 2005, Tanaman
Obat di Lingkungan Sekitar. Jakarta: Puspa Swara.
Dorland WA. Kamus
Kedokteran Dorland, 24thed. Huriawati Hartanto, editor. Jakarta: EGC. 2002.
Fitri, A. 2007. Pengaruh
penambahan daun salam (Eugenia polyantha Wight)terhadap kualitas mikrobiologis,
kualitas organoleptis dan daya simpan telur asin pada suhu kamar. skripsi.
Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Sebelas Maret Surakarta, Surakarta. core.ac.uk/download/pdf/12347922.pdf.
Diakses 24 Nov 2015.
Foragri. 2012. Budidaya
Tanaman Salam, http://www.agropustaka.com/2012/04/
budidayatanaman-salam.html. Diakses 16 Desember 2015.
Hardhani, A. S. 2008. Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Salam (Eugenia
polyantha) terhadap Kadar Trigliserida Serum Tikus Jantan Galur Wistar Hiperlipidemia. Karya tulis ilmiah,
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang.
Katzer, G. 2001. Indonesian
Bay-Leaf (Eugenia polyantha Wight.), http://gernot-katzers-spicepages.com/engl/Euge_pol.html.
diakses 14 November 2015.
Kloppenburg-Versteegh J. 1983. Petunjuk Lengkap Mengenai Tanaman-tanaman di Indonesia dan Khasisatnya
sebagai Obat-obatan Tradisional. Yogyakarta: Yayasan Dana Sejahtera.
Lelono, R.A.A. dan Tachibana, S., 2013, Bioassay-guided isolation and
identification of antioxidative compounds from the bark of Eugenia polyantha. Pakistan Journal of Biological Sciences, 16(16):
812-818.
sangat bermanfaat..makasih
ReplyDelete