DAUN SIRIH
(Piper betle Linn)
Tanaman
sirih (Piper betle Linn.) adalah tanaman yang memiliki khasiat antibakteri dan
merupakan salah satu tanaman asli di Indonesia. Efek
antibakteri dari tanaman sirih hijau dikarenakan kandungan minyak atsiri dari
daun sirih hijau yang komponen utamanya terdiri atas fenol dan beberapa turunan
diantaranya adalah euganol dan kavikol. Bakteri Escherichia coli merupakan
bakteri golongan Coliform, serta merupakan flora normal yang berada pada tubuh
manusia, tapi dapat menjadi pathogen pada kondisi tertentu dapat merugikan
karena merupakan salah satu bakteri penyebab penyakit diare.
Daun sirih di Indonesia mempunyai nama yang berbeda–beda
sesuai dengan nama daerahnya masing-masing, yaitu si ureuh (Sunda); sedah,
suruh Jawa); sirih (Sampit); ranub (Aceh); cambia (Lampung); base seda (Bali)
(Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
Daun sirih bisa digunakan sebagai antiseptik. Kandungan
kimia dari tanaman sirih ialah saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak
atsiri. Senyawa saponin dapat bekerja sebagai antimikroba. Senyawa ini akan
merusak membran sitoplasma dan membunuh sel. Senyawa flavonoid diduga memiliki
mekanisme kerja mendenaturasi protein sel bakteri dan merusak membran sel tanpa
dapat diperbaiki lagi.
Daun sirih mempunyai aroma yang khas karena mengandung
minyak atsiri 1- 4,2%, air, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor,
vitamin A, B, C, yodium, gula dan pati. Dari berbagai kandungan tersebut, dalam
minyak atsiri terdapat fenol alam yang mempunyai daya antiseptik 5 kali lebih
kuat dibandingkan dengan fenol biasa (bakterisid dan fungisid) tetapi tidak
sporasid. Minyak atsiri dari daun sirih mengandung 30% fenol dan beberapa
derivatnya. Minyak atsiri terdiri dari hidroksi kavikol, kavibetol, estragol,
eugenol, metileugenol, karbakrol, terpen, seskuiterpen, fenilpropan, dan
tannin, Kavikol merupakan komponen paling banyak dalam minyak atsiri yang
memberi bau khas pada sirih. Kavikol bersifat mudah teroksidasi dan dapat
menyebabkanperubahan warna. Daun sirih adalah tanaman yang memiliki beberapa
kandungan kimia antara lain saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri.
Kandungan saponin dan flavonoid berkhasiat sebagai obat batuk (Widyastuti,
2001).
Pada pemakaian tradisional, daun sirih digunakan dengan
cara direbus dahulu, kemudian diminum sarinya. Maka dari itu untuk meningkatkan
kenyamanan dan kemudahan pemakaian daun sirih, pada penelitian ini dibuat tablet
hisap dari ekstrak daun sirih. Tablet hisap dimaksudkan untuk dikulum dan
dihisap pelan-pelan, yang membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam
mulut. Umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis. Salah satu komponen
penting dalam pembuatan tablet hisap adalah bahan pengikat. Bahan pengikat
berpengaruh terutama pada kekerasan tablet dimana tablet hisap harus memiliki
kekerasan yang lebih besar dari tablet-tablet pada umumnya. Dalam penelitian
ini yang digunakan sebagai bahan pengikat adalah polivinil pirolidon. PVP
banyak digunakan untuk pembuatan granul, dengan keuntungan dapat berfungsi
sebagai bahan pengikat yang larut pada air atau alkohol, mempunyai kemampuan
sebagai pengikat kering, hasil granul dapat kering dan menghasilkan tablet yang
bagus (Lachman dkk., 1994).
PVP telah digunakan
secara luas sebagai tambahan, terutama pada sediaan tablet oral dan solution.
Jika dikonsumsi secara oral, PVP dianggap non toksik karena tidak diabsorbsi
dari saluran pencernaan atau membran mukus. PVP berfungsi sebagai bahan
pengikat dengan kadar 0,5-5% (Rowe dkk., 2006). PVP berpengaruh terhadap sifat
fisik tablet hisap meliputi kekerasan tablet hisap, kerapuhan tablet hisap, dan
waktu larut tablet hisap.
Daun sirih juga memiliki efek antibakteri terhadap
Streptococcus mutans, Streptococcus sanguins, Streptococcus viridans,
Actinomyces viscosus, dan Staphylococcus aureus.
Tanaman sirih
(Piper betle L.) sudah lama digunakan sebagai obat sejak dulu. Bagian tanaman
yang digunakan adalah daunnya, kandungan daun sirih antara lain saponin,
polifenol, minyak atsiri, dan flavonoid. Selain itu daun sirih juga mempunyai
khasiat sebagai obat batuk (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991)
Umumnya masyarakat menggunakan daun sirih seperti biasa
masih dalam cara yang sederhana, mulai dari penggunaannya yang harus direbus
dahulu, kemudian diminum sarinya. Cara penggunaan ini dirasa kurang praktis, maka dari itu diperlukan inovasi
baru untuk meningkatkan kenyamanan dan kemudahan dalam penggunaan, diantaranya
dibuat sediaan tablet. Salah satu bentuk sediaan tablet adalah tablet hisap.
Tablet hisap adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat,
umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis, yang dapat membuat tablet
melarut atau hancur perlahan dalam mulut (Departemen RI, 1995).
Keuntungan tablet hisap antara lain tablet hisap memiliki
rasa manis, mudah dalam penggunaan, ketepatan dosis, memberikan efek lokal, dan
tidak diperlukan air minum untuk menggunakannya. Pada pembuatan tablet
diperlukan beberapa zat tambahan diantaranya bahan pengikat. Dalam pembuatan
tablet ini digunakan Polivinil Pirolidon dengan berbagai konsentrasi. PVP
banyak digunakan untuk pembuatan granul, dengan keuntungan dapat berfungsi
sebagai bahan pengikat yang larutan air
atau alkohol, mempunyai kemampuan sebagai pengikat kering, hasil granul dapat
kering, dan menghasilkan tablet yang bagus (Lachman dkk., 1994).
Polivinil Pirolidon telah digunakan secara luas sebagai tambahan,
terutama pada sediaan tablet oral dan solution. Jika dikonsumsi secara oral,
Polivinil Pirolidon dianggap non toksik karena tidak diabsorbsi dari saluran pencernaan
atau membran mukus (Rowe dkk., 2006).
Tablet hisap
mempunyai kekerasan yang lebih dibandingkan dengan tablet biasa, sehingga
diperlukan bahan pengikat untuk meningkatkan kekerasaan.Oleh karena itu perlu
diperlukan penelitian mengenai pengaruh variasi kadar PVP sebagai bahan
pengikat terhadap sifat fisik tablet hisap ekstrak daun sirih ( Piper betle
L.).
ü
Klasifikasi
Tanaman Sirih (Piper betle L.)
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Piperales
Familia : Piperaceae
Spesies : Piper betle L. (Syamsuhidayat dan Hutapea,
1991).
ü
Morfologi
Tanaman Sirih (Piper betle L.)
Tanaman sirih merupakan tanaman yang tumbuh memanjat,
tinggi 5 cm-15 cm. Helaian daun berbentuk bundar telur atau bundar telur lonjong.
Pada bagian pangkal berbentuk jantung atau agak bundar, tulang daun bagian
bawah gundul atau berbulu sangat pendek, tebal berwarna putih, panjang 5-18 cm,
lebar 2,5 - 10,5 cm. Daun pelindung berbentuk lingkaran,
bundar telur sungsang atau lonjong panjang kira-kira 1 mm. Perbungaan berupa
bulir, sendiri-sendiri di ujung cabang dan berhadapan dengan daun. Bulir bunga
jantan, panjang gaggang 1,5 - 3 cm, benang sari sangat pendek. Bulir bunga
betina, panjang gaggang 2,5 – 6 cm, kepala putik 3 – 5. Buah Buni, bulat dengan
ujung gundul. Bulir masak berbulu kelabu, rapat, tebal 1– 1,5 cm. Biji
berbentuk bulat (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
ü
Kandungan
Kimia Daun Sirih (Piper betle L.)
Kandungan kimia daun sirih antara lain saponin,
flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri (Syamshidayat dan Hutapea, 1991)
ü
Kegunaan
Daun Sirih (Piper betle L.)
Daun Sirih mempunyai khasiat sebagai obat batuk, obat
bisul, obat sakit mata, obat sariawan, obat hidung berdarah (Syamsuhidayat dan
Hutapea, 1991).
ü
Tinjauan
Tentang Ekstrak
a. Pengertian Tentang Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan
mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simlisia hewani menggunakan
pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan
massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku
yang telah ditetapkan. Pembuatan ekstrak
dimaksudkan agar zat berkhasiat yang terdapat dalam simplisia terdapat dalam
bentuk yang mempunyai kadar tinggi dan hal ini memudahkan zat berkhasiat dapat
diatur dosisnya (Departemen RI, 1995).
b. Pembagian Ekstrak
Berdasarkan atas sifatnya ekstrak dapat dikelompokkan
menjadi 3:
1) Ekstrak encer (extractum tennue) Sediaan ini memiliki
konsentrasi seperti madu dan dapat dituang.
2) Ekstrak kental (extractum spissum) Sediaan ini liat
dalam keadaan dingin dan tidak dapat dituang.
3) Ekstrak kering
(extractum siccum) Sedian ini memiliki konsentrasi kering dan mudah digosokkan,
melalui penguapan cairan pengekstraksi dan pengeringan sisanya akan terbentuk
suatu produk yang sebaliknya memiliki kandungan lembab tidak lebih dari 5 % (Voigt,
1984).
c. Penyarian
Penyarian merupakan proses perpindahan massa zat aktif
yang semula berada dalam sel ditarik
oleh cairan penyari sehingga zat aktif larut dalam cairan penyari. Kriteria cairan penyari yang baik haruslah
memenuhi syarat antara lain murah dan mudah didapat, stabil secara fisika dan
kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap, dan tidak mudah terbakar, selektif
yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki, dan tidak mempengaruhi zat
berkhasiat (Anonim, 1986).
3. Metode Pembuatan Ekstrak
a. Maserasi
Maserasi merupakan proses perendaman sampel menggunakan
pelarut organik pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam
isolasi senyawa bahan alam karena dengan perendaman sampel tumbuhan akan
terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di
dalam dan di luar sel, sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma
akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena
dapat diatur lama perendaman yang dilakukan untuk proses maserasi akan
memberikan efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan
alam dalam pelarut tersebut (http://wikipedia, 2009).
b. Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan
mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi.
Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara gaya, berat, kekentalan, daya
larut, tegangan permukaan, difusi osmosis, adhesi, dan daya kapiler (Anonim, 1986).
c. Sohkletasi
Sohkletasi merupakan penyempurnaan alat ekstrasi. Uap
cairan penyari naik ke atas melalui pipa samping, kemudian diembunkan kembali
dengan pendingin tegak. Cairan turun ke labu melalui tabung berisi serbuk
simplisia. Adanya sifon mengakibatkan seluruh cairan akan kembali ke labu
(Anonim, 1986).
4. Tinjauan Tentang Tablet
a. Tablet
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obatdengan
atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan, dapat digolongkan
sebagai tablet cetak dan tablet kempa (Anonim, 2005).
Bentuk sediaan tablet mempunyai keuntungan yang meliputi
ketepatan dosis, praktis dalam penyajian, biaya produksi yang murah, mudah
dikemas, tahan dalam penyimpanan, mudah dibawa, serta bentuk yang memikat
(Lachman dkk., 1994).
b. Tablet Hisap
Tablet hisap adalah adalah sediaan padat yang mengandung
satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis, yang
dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut (Departemen RI,
1995).
Troches dan lozenges adalah dua nama yang umum digunakan
untuk menyebut tablet hisap pada mulanya lozenges dinamakan pastiles. Troches
dan lozenges biasanya dibuat dengan menggabungkan obat dalam suatu bahan dasar kembang
gula yang keras dan beraroma menarik (Gunsel dan Kanig, 1976).
Tablet hisap mengandung satu atau lebih bahan obat,
umumnya dengan bahan beraroma manis yang dapat membuat tablet melarut atau
hancur perlahan di mulut. Kandungan gula dan gom yang tinggi menghasilkan
larutan yang lengket di mulut yang dapat menyebabkan pengobatan tetap berada
pada permukaan yang terkena. Bahan flavour biasanya ditambahkan pada gula
berupa minyak menguap (Cooper dan Gunn, 1975).
Tablet hisap digunakan untuk mencegah dan mengobati
infeksi rongga mulut dan ruang rahang. Sebagian obatnya didominasi oleh
antiseptika, desinfektansia, anestetika lokal, dan ekspektoransia (Voigt,
1984). 5. Metode Pembuatan Tablet Hisap
Ada dua metode dalam pembuatan tablet hisap, yaitu :
a. Metode Peleburan
Tablet hisap yang diproduksi dengan cara peleburan
disebut dengan lozenges, biasanya dibuat dengan peleburan atau dengan proses
penuangan kembang gula (pastiles) (Gunsel dan Kanig, 1975).
b. Metode Pengempaan / kompres
Tablet hisap yang diproduksi dengan cara pengempaan atau
kompres disebut dengan troches (Lachman dkk., 1994). Metode pengempaan atau
kompres dibagi menjadi tiga, yaitu :
1) Metode Granulasi Basah (wet granulation)
Metode granulasi basah adalah metode yang banyak
digunakan untuk produksi tablet kompresi. Langkah-langkah yang diperlukan dalam
metode ini adalah sebagai berikut :
a) Menimbang dan mencampur bahan-bahan
b) Pembuatan granulasi basah
c) Pengayakan adonan lembab menjadi pelet atau granul
d) Pengeringan
e) Pengayakan kering
f) Pencampuran bahan pelincir dan pencampuran
g) Pembuatan tablet dengan kompresi (Ansel dkk.,
2005).
Keuntungan granulasi basah :
a) Meningkatkan kohesivitas dan kompaktibilitas serbuk.
b) Zat aktif yang kompaktibilitasnya rendah dalam dosis
yang tinggi harus dibuat dengan metode granulasi basah.
c) Zat aktif yang larut air dalam dosis kecil, maka distribusi
dan keseragaman zat aktif akan lebih baik kalau dicampurkan dengan larutan
bahan pengikat.
d) Sistem granulasi basah dapat mencegah segregasi
komponen penyusun tablet yang telah homogen sebelum proses pencampuran.
e) Zat-zat yang bersifat hidrofob, sistem granulasi basah
dapat memperbaiki kecepatan pelarutan zat aktif dengan perantara cairan pelarut
yang cocok pada bahan pengikat (Sheth dkk., 1980).
2) Metode Granulasi Kering (dry granulation)
Metode granulasi kering ini molekul air yang ada pada
setiap molekul asam sitrat bertindak sebagai unsur penentu bagi pencampuran
serbuk. Sebelum serbukserbuk dicampur atau diaduk, kristal asam sitrat dijadikan
serbuk, baru dicampur dengan serbuk-serbuk lainnya atau setelah disalurkan
lewat ayakan no. 60 untuk memantapkan keseragaman atau meratanya pencampuran.
Ayakan dan alat pengaduk harus terbuat dari stainless steel atau bahan lain
yang harus tahan terhadap pengaruh asam. Mencampur atau mengaduk serbuk-serbuk
ini dilakukan cepat dan lebih baik di lingkungan yang kadar kelembabannya
rendah untuk mencegah terhisapnya uap-uap air dari udara oleh bahan-bahan kimia
dan oleh reaksi kimia yang terjadi lebih dini. Setelah pengadukan selesai,
serbuk diletakkan dalam sebuah oven atau pemanas lainnya yang sesuai dan
sebelumnya oven ini dipanaskan pada suhu 33,8-40˚C. Selama proses pembuatan
serbuk dibolak-balik dengan memakai spatel tahan asam. Panas menyebabkan
lepasnya air kristal dari
asam sitrat, dimana yang pada gilirannya melarutkan
sebagian campuran serbuk, memacu reaksi kimia, dan berakibat melepaskan
beberapa karbondioksida. Ini menyebabkan bahan serbuk yang dihaluskan menjadi
agak seperti spon. Setelah mencapai kepadatan yang tepat (seperti roti pada
adonan roti), serbuk ini dikeluarkan dari oven dan dialirkan melalui suatu ayakan
tahan asam untuk membuat granul-granul sesuai yang diinginkan. Ayakan no. 4
dapat dipakai untuk membuat granul yang lebih besar, ayakan no. 8 untuk membuat
granul dengan ukuran sedang, dan ayakan no. 10 untuk membuat granul dengan
ukuran kecil. Jika semua adonan telah melalui ayakan, granul-granul ini segera
dikeringkan pada suhu tidak lebih dari 54˚C dan segera dipindahkan ke wadah
kemudian disimpan secara cepat dan rapat (Ansel dkk., 2005).
sangat bermanfaat dan begruna
ReplyDelete