Thursday, October 31, 2019

Sirsak dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

TANAMAN SIRSAK
(Annona muricata Linn)

Sirsak (Annona muricata Linn) adalah tumbuhan berguna yang berasal dari Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Di berbagai daerah Indonesia dikenal sebagai nangka sebrang, nangka landa (Jawa), nangka walanda, sirsak (Sunda), nangka buris, nangkelan (Madura), srikaya jawa (Bali), boh lona (Aceh), durio ulondro (Nias), durio betawi (Minangkabau), jambu landa (Lampung), nangko belando (Palembang). Penyebutan “Belanda” dan variasinya menunjukkan bahwa sirsak dari bahasa Belanda : Zuurzak yang berarti kantung asam, didatangkan oleh pemerintahan kolonial Hindia-Belanda ke Nusantara yaitu pada abad ke19 meskipun bukan berasal dari Eropa. Tanaman ini ditanam secara komersial atau sambilan untuk diambil daging buahnya, tumbuhan ini dapat tumbuh disembarang tempat paling baik ditanam didaerah yang cukup berair dan pada semua jenis tanah dengan derajat keasaman (pH) antara 5-7 jadi tanah yang sesuai adalah tanah yang agak asam sampai alkalis. Pohon sirsak bisa mencapai tinggi   9 meter di Indonesia sirsak dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 100-1000 m dari permukaan laut. Suhu udara yang sesuai untuk tanaman ini antara 22-32◦C dan curah hujan yang dibutuhkan untuk tanaman sirsak ini adalah 1500-3000 mm/pertahun.  Sumber: (http://wisata-buahsirsak.blogspot.co.id/2015/01/sejarah-buahsirsak.html?m=1 )
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Polycarpiceae
Famili : Annonaceae
Genus : Annona
Spesies : Annona muricata Linn
Nama Umum : Graviola (Brazil), Soursop (Inggris), Guanabana (Spanyol), Nangka Sabrang atau Nangka Belanda (Jawa), Nangka Walanda atau Sirsak (Sunda) Sirsak sejauh ini dibudidayakan untuk dimanfaatkan buahnya karena kandungan gizinya yang tinggi seperti karbohidrat, vitamin C dan mineral (Rahmani, 2008). Menurut Widyaningrum (2012), buah berkhasiat mencegah dan mengobati diare, maag, disentri, demam, flu, menjaga stamina dan pelancar ASI. Bunga digunakan sebagai obat bronkhitis dan batuk. Biji digunakan untuk mencegah dan mengobati astrigent, karminatif, penyebab muntah, mengobati kepala berkutu dan parasit kulit serta obat cacing. Kulit batang digunakan untuk pengobatan asma, batuk, hipertensi, obat parasit, obat penenang dan kejang. Akar digunakan untuk obat diabetes (khusus kulit akarnya), obat penenang dan kejang. Di antara bagian-bagian tanaman sirsak tersebut, daun juga bermanfaat sebagai obat penyakit jantung, diabetes dan antikanker yang merupakan senyawa antioksidan. 
Daun sirsak dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif untuk pengobatan kanker, yakni dengan mengkonsumsi air rebusan daun sirsak. Selain untuk pengobatan kanker, tanaman sirsak juga dimanfaatkan untuk pengobatan demam, diare, antikejang, anti jamur, anti parasit, antimikroba, sakit pinggang, asam urat, gatal-gatal, bisul, flu, dan lain-lain. Daun sirsak berpotensi sebagai antihipertensi, antispasmodik, obat pereda nyeri, hipoglikemik, antikanker, emetic (menyebabkan muntah), vermifuge (pembasmi cacing). Daun sirsak juga memiliki efek yang bermanfaat dalam meningkatkan aktivitas enzim antioksidan dan hormon insulin pada jaringan pankreas serta melindungi dan menjaga selsel pankreas.  Pada daun sirsak ditemukan senyawa acetogenin yang bermanfaat mengobati berbagai penyakit. Acetogenin berperan serta dalam melindungi sistem kekebalan tubuh serta mencegah infeksi yang mematikan. Daun sirsak mengandung acetogenin yang mampu melawan 12 jenis sel kanker. Banyaknya manfaat sirsak membuat orang mulai beralih mengonsumsi suplemen herbal daun sirsak sebagai alternatif pencegahan dan pengobatan konvensional. Pada daun sirsak, telah ditemukan 18 jenis annonaceous acetogenin dan telah terbukti secara in vitro bersifat sitotoksik. Daun sirsak memiliki sifat toksik yang tinggi terhadap sel kanker ovarium, serviks, dan sel kanker kulit pada dosis rendah. Acetogenins sering disebut sebagai inhibitor atau penghambat pertumbuhan sel kanker paling kuat https://tanamanherbal10.blogspot.com/

DAFTAR PUSTAKA
Widyaningrum, Herlina. 2012. Sirsak Si Buah Ajaib 10.000x Lebih Hebat dari Kemoterapi. Yogyakarta: MedPress.
Latifah, Wakhidatul. 2013. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata L.) Gugur. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
EnikRahima. 2011. Menyembuhkan Kanker dengan Daun  Sirsak,  Artapustaka, Yogyakarta
Ideasanti, Soediro S. dan Siti K. 1995. Telaah Senyawa Fenolik Daun Sirsak, Annona muricata L., Annonaceae. Sekolah Farmasi ITB. http://bahan-alam.fa.itb.ac.id. Tanggal akses: 01/07/2014.
Mardiana, L., dan Ratnasari, J. 2011. Ramuan dan Khasiat Sirsak. Penebar Swadaya. Jakarta.
Prasetya, Galih H., dan Hendrawan Laksono. 2013. Ekstraksi daun sirsak (Annona muricata l.) menggunakan pelarut etanol. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol.2, No. 2, Hal 111-115

Kunyit dan manfaatnya

https://drive.google.com/file/d/12dfDk1ffKIC_fkx4tMdMYp9tb5NnXx4k/view?usp=drivesdk



KUNYIT
(Curcuma domestica Val.)
Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 mdpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina.
Batang  Kunyit memiliki batang semu yang tersusun dari kelopak atau pelepah daun yang saling menutupi. Batang kunyit bersifat basah karena mampu menyimpan air dengan baik, berbentuk bulat dan berwarna hijau keunguan. Tinggi batang kunyit mencapai 0,75 – 1m (Winarto, 2004).
Daun kunyit tersusun dari pelepah daun, gagang daun dan helai daun. Panjang helai daun antara 31 – 83 cm. lebar daun antara 10 – 18 cm. daun kunyit berbentuk bulat telur memanjang dengan permukaan agak kasar. Pertulangan daun rata dan ujung meruncing atau melengkung menyerupai ekor. Permukaan daun berwarna hijau muda. Satu tanaman mempunyai 6 – 10 daun (Winarto, 2004).
Bunga kunyit berbentuk kerucut runcing berwarna putih atau kuning muda dengan pangkal berwarna putih. Setiap bunga mempunyai tiga lembar kelopak bunga, tig lembar tajuk bunga dan empat helai benang sari. Salah satu dari keempat benang sari itu berfungsi sebagai alat pembiakan. Sementara itu, ketiga benang sari lainnya berubah bentuk menjadi heli mahkota bunga (Winarto, 2004).
Rimpang kunyit bercabang – cabang sehingga membentuk rimpun. Rimpang berbentuk bulat panjang dan membentuk cabang rimpang berupa batang yang berada didalam tanah. Rimpang kunyit terdiri dari rimpang induk atau umbi kunyit dan tunas atau cabang rimpang. Rimpang utama ini biasanya ditumbuhi tunas yang tumbuh kearah samping, mendatar, atau melengkung. Tunas berbuku – buku pendek, lurus atau melengkung. Jumlah tunas umunya banyak. Tinggi anakan mencapai 10,85 cm (Winarto, 2004).  
Warna kulit rimpang jingga kecoklatan atau berwarna terang agak kuning kehitaman. Warna daging rimpangnya jingga kekuningan dilengkapi dengan bau khas yang rasanya agak pahit dan pedas. Rimpang cabang tanaman kunyit akan berkembang secara terus menerus membentuk cabang – cabang baru dan batang semu, sehingga berbentuk sebuah rumpun. Lebar rumpun mencapai 24,10 cm. panjang rimpang bias mencapai 22,5 cm. tebal rimpang yang tua 4,06 cm dan rimpang muda 1,61 cm. rimpang kunyit yang sudah besar dan tua merupakan bagian yang dominan sebagai obat (Winarto, 2004).
Kandungan senyawa kimia utama yang terkandung dalam kunyit adalah kurkuminoid atau zat warna, yakni sebanyak 2,5 – 6%. Pigmen kurkumin inilah yang memberi warna kuning orange pada rimpang (Winarto, 2004).
Salah satu fraksi yang terdapat dalam kurkuminoid adalah kurkumin. Komponen kimia yang terdapat didalam rimpang kunyit diantaranya minyak atsiri, pati, zat pahit, resin, selulosa dan beberapa mineral. Kandungan minyak kunyit sekitar 3 – 5%. Disamping itu, kunyit juga mengandung zat warna lain, seperti monodesmetoksikurkumin dan biodesmetoksikurkumin, setiap rimpang segar kunyit mengandung ketiga senyawa ini sebesar 0,8% (Winarto, 2004). 
Kunyit memiliki efek farmakologis seperti, melancarkan darah dan vital energi, menghilangkan sumbatan peluruh haid, antiradang (anti–inflamasi), mempermudah persalinan, antibakteri, memperlancar pengeluaran empedu (kolagogum), peluruh kentut (carminative)dan pelembab (astringent) (Said, 2007). Kunyit mempunyai khasiat sebagai jamu dan obat tradisional untuk berbagai jenis penyakit, senyawa yang terkandung dalam kunyit (kurkumin dan minyak atsiri) mempunyai peranan sebagai antioksidan, antitumor dan antikanker, antipikun, menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam darah dan hati, antimikroba, antiseptic dan antiinflamasi(Hartati & Balittro, 2013).
Kunyit mengandung curcumin yang dapat mempercepat penyembuhan luka. Curcumin dapat meningkatkan re – epitelialisasi, menekan radang, meningkatkan densitas kolagen jaringan serta meningkatkan proliferasi dari fibroblast (Partomuan, 2009). Sifat kunyit yang dapat menyembuhkan luka sudah dilaporkan sejak tahun 1953. Hasil penelitian menunjukkan, dengan kunyit laju penyembuhan luka meningkat 23,3% pada kelinci dan 24,4% pada tikus (Ide, 2011). Pemberian kurkumin secara oral juga efektif dapat mengurangi inflamasi pada binatang percobaan. Oleh karena itu kunyit sering digunakan sebagai antiseptic, obat luka dan obat berbagai jenis infeksi serta penyakit kulit lainnya (Hartati & Balittro, 2013).
Di daerah Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena berkhasiat menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan gatal, dan menyembuhkan kesemutan. Manfaat utama tanaman kunyit, yaitu: sebagai bahan obat tradisional, bahan baku industri jamu dan kosmetik, bahan bumbu masak, peternakan dll. Disamping itu rimpang tanaman kunyit itu juga bermanfaat sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti tumor, dan menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih darah.
Tanaman kunyit dapat tumbuh baik pada daerah yang memiliki intensitas cahaya penuh atau sedang, sehingga tanaman ini sangat baik hidup pada tempat-tempat terbuka atau sedikit naungan. Pertumbuhan terbaik dicapai pada daerah yang memiliki curah hujan 1000-4000 mm/tahun. Bila ditanam di daerah curah hujan < 1000 mm/tahun, maka system pengairan harus diusahakan cukup dan tertata baik. Tanaman ini dapat dibudidayakan sepanjang tahun. Pertumbuhan yang paling baik adalah pada penanaman awal musim hujan. Suhu udara yang optimum bagi tanaman ini antara 19-30 oC.
Kunyit tumbuh subur pada tanah gembur, pada tanah yang dicangkul dengan baik akan menghasilkan umbi yang berlimpah. Jenis tanah yang diinginkan adalah tanah ringan dengan bahan organik tinggi, tanah lempung berpasir yang terbebas dari genangan air/sedikit basa. 
Tanaman kunyit siap dipanen pada umur 8 -18 bulan, saat panen yang terbaik adalah pada umur tanaman 11-12 bulan, yaitu pada saat gugurnya daun kedua. Saat itu produksi yang diperoleh lebih besar dan lebih banyak bila dibandingkan dengan masa panen pada umur kunyit 7 -8 bulan. Ciri-ciri tanaman kunyit yang siap panen ditandai dengan berakhirnya pertumbuhan vegetatif, seperti terjadi kelayuan/perubahan warna daun dan batang yang semula hijau berubah menjadi kuning (tanaman kelihatan mati).
Panen kunyit dilakukan dimusim kemarau karena pada saat itu sari/zat yang terkandung didalamnya mengumpul. Selain itu kandungan air dalam rimpang sudah sedikit sehingga memudahkan proses pengeringannya.
Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari, atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50oC - 60oC. Rimpang yang akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang dihasilkan 
Dewasa ini rata-rata  Tingkat kebutuhan pasar dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kebutuhan lebih tinggi pada saat menjelang hari-hari besar/hari raya. Permintaan kebutuhan industri di atas sebagian besar berasal dari pasokan para petani. Melihat dari kebutuhan rata
rata industri jamu dan kosmetik yang ada di dalam negeri, suplai dan permintaan terhadap kunyit tidak seimbang, apalagi memenuhi permintaan pasar luar negeri. Sementara kebutuhan kunyit dunia hingga saat ini mencapai ratusan ribu ton/tahun. Sebagian kecil dari jumlah tersebut dipenuhi oleh negara India, Haiti, Srilanka, Cina, dan negara-negara lainnya. Indonesia kini sudah selayaknya membudidayakan tanaman ini, terutama dengan sistem monokultur/tumpang sari sehingga produksi yang dicapai lebih cepat dan tinggi, agar kebutuhan minimal dalam negeri terpenuhi secara optimal. Walaupun di daerah Jawa Tengah kini sudah diupayakan sistem penanaman tersebut, juga diperhitungkan dari sudut produktivitas dan jalur tata niaganya, namun luas lahan tanam yang ada belum maksimal untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri yang mencapai ratusan ribu ton/hanya. Indonesia sebenarnya mulai mengekspor kunyit.






DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 1994. Hasil Penelitian Dalam Rangka Pemanfaatan Pestisida Nabati. Prosiding Seminar di Bogor 1 – 2 Desember 1993. 
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor. 311 Hal. 2)      2) Anonimous. 1989. Vademekum Bahan Obat Alam. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 411 Hal.3)      
     Darwis SN. 1991. Tumbuhan obat famili Zingiberaceae. Bogor, Puslitbang Tanaman Industri: 39-61.   Kartasapoetra, G. 1992. Budidaya tanaman berkhasiat obat: kunyit (kunir). Jakarta, PT. Rineka Cipta: 60
     Kloppenburg-Versteegh, J. 1988. Petunjuk lengkap mengenai tanamantanaman di Indonesia dan khasiatnya sebagai obat-obatan tradisional (kunir atau kunyit-Curcuma domestica Val.). Jilid 1: bagian Botani. Yogyakarta, CD.RS. Bethesda: 102-103.
      Moko, Hidayat; Mulyoto; Ismiyatiningsih. 1993. Pengaruh beberapa zat pengatur tumbuh dan mulsa terhadap pertumbuhan tanaman kunyit. Buletin Pertanian Tanaman Rempah dan Obat, 8 (1) 1993: 30-38.
      Muhlisah, Fauziah. 1996. Tanaman obat keluarga (toga): kunyit. Cet.2. Jakarta, Penebar Swadaya: 40-41. 
      Nugroho, Nurfina A. 1998. Manfaat dan prospek pengembangan kunyit. Ungaran,Trubus Agriwidya. 86 hal.
      Soedibyo, BRA Mooryati. 1998. Alam sumber kesehatan, manfaat dan kegunaan: kunyit. Cet.1. Jakarta, Balai Pustaka: 230-231.
      Wijayakusuma, H.M. Hembing; Dalimartha, Setiawan; Wirian, A.S. 1992. Tanaman berkhasiat obat di Indonesia: kunyit; Curcuma longa Linn (Jiang Huang). Jilid 4. Jakarta, Pustaka Kartini: 93-94.
      Wiroatmodjo, Joedojono; Lontoh, A.P.; Nurdin. 1993. Kajian pemberian pupuk kandang dan tingkat populasi terhadap pertumbuhan produksi kunyit (Curcuma domestica Val.) yang ditumpangsarikan dengan jagung manis (Zea mays Soccharata). Buletin Agronomi, 21 (2) 1993: 59-63. Jakarta.


Serai Wangi dan manfaatnya

https://drive.google.com/file/d/14TSdw9i-oW4hBDoP2VH1oQPKWSXWgIlu/view?usp=drivesdk



SERAI WANGI
(Cymbopogon nardus (L.)Rendle)


Tanaman serai wangi termasuk golongan rumput-rumputan yang disebut Andropogon nardus atau Cymbopogon nardus. Genus ini meliputi hampir 80 species, tetapi hanya beberapa jenis yang menghasilkan minyak atsiri yang mempunyai arti ekonomi dalam dunia perdagangan (Hieronymus,1992).
Serai wangi merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan di pekarangan dan sela sela tumbuhan lain. Biasanya serai wangi ditanam sebagai tanaman bumbu atau tanaman obat. Seraiwangi di Indonesia ada 2 jenis yaitu Mahapengiri dan Lenabatu (Ketaren dan Djatmiko,1978).
Jenis mahapengiri mempunyai ciri-ciri daunnya lebih lebar dan pendek, disamping itu menghasilkan minyak dengan kadar sitronellal 30-45% dan geraniol 6590%. Jenis lenabatu menghasilkan minyak dengan kadar sitronellal 7-15% dan geraniol 55-65% (Wijoyo, 2009).

Kedudukan taksonomi tanaman serai menurut Ketaren (1985) yaitu :
Kingdom  : Plantae
Subkingdom : Trachebionta
Divisi  : Spermatophyta
Subdivisi  : Angiospermae
Kelas  : Monocotyledonae
Sub Kelas  : Commelinidae
Ordo  : Poales
Famili  : Poaceae
Genus   : Cymbopogon
Species  : Cymbopogon nardus(L.)Rendle

Kandungan Serai Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle)
Kandungan kimia yang terdapat di dalam tanaman seraiwangi antara lain mengandung 0,4%  minyak atsiri dengan komponen yang terdiri dari sitral, sitronelol (66-85%), α-pinen, kamfen, sabinen, mirsen,β-felandren, psimen, limonen, cis-osimen, terpinol, sitronelal, borneol, terpinen-4-ol, αterpineol, geraniol, farnesol, metil heptenon, n-desialdehida, dipenten,  metil heptenon, bornilasetat, geranilformat, terpinil asetat, sitronelil asetat, geranil asetat, β-elemen, β-kariofilen, β-bergamoten, trans- metilisoeugenol, β- kadinen, elemol, kariofilen oksida (Anonim, 1984; Anonim, 1985; dan Rusli dkk., 1979 dalam Kristiani, 2013).
Dari berbagai tanaman obat yang ada, sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat. Hasil penyulingan daun dan batang sereh wangi diperoleh minyak atsiri yang dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Citronella Oil.
Minyak sereh wangi diketahui memiliki potensi senyawa untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang berdampak pada penyakit-penyakit infeksi bakteri. Menurut Burdock (2002) senyawa utama minyak sereh wangi adalah sitronellal, geraniol dan sitronellol. Dalam fraksi minyak atsiri dari tanaman C. winterianus/nardus terdapat senyawa sitronelal, sitronelol, limonene, linalool (Lorenzo et al., 2000).


DAFTAR PUSTAKA

Ani Sjahazman .1970. Penyulingan Minyak Sereh. Dep. THP, Fateta-IPB, Bogor.
Bambang Djatmiko, dan S. Kataren.1980. Analisa Fisiko Minyak Atsiri. Fateta-IPB, Bogor.
Hobir, Emmyzar, 2002, Perkembangan Teknologi Produksi Minyak Atsiri Indonesia. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.
 Rusli, S, N Nurdjanah, Soediarto, D Sitepu, S Ardi, DT Sitorus, 1985, Penelitian dan Pengembangan Minyak Atsiri Indonesia. Edisi Khusus Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Vol. I No. 2, Balitro, Bogor.
Susetyo, R, Reny Haryati. 2008.  Kiat Hasilkan Sereh Wangi Kualitas Atas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Suprianto. 2008. Potensi Ekstrak Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.) Sebagai Anti Streptococcus mutans. IPB. Bogor.
Wijayakusuma, H.M.H. 2001. Tumbuhan berkhasiat obat Indonesia: rempah, rimpang, dan umbi. Jakarta: Milenia populer.



Pandan Wangi dan manfaatnya

https://drive.google.com/file/d/14Aq2tMqvo9Xizpd1lyjZxWEPp6FgwNg7/view?usp=drivesdk



PANDAN WANGI
(Pandanus amaryllifolius Roxb.)

Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) adalah jenis tumbuhan monokotil dari famili Pandanaceae. Daunnya merupakan komponen penting dalam tradisi masakan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya (Nonato, et al, 2008). Pandan wangi merupakan tanaman jenis perdu yang tumbuh menahun dengan tinggi 1 – 2 m. Batangnya berbentuk bulat dengan bekas duduk daun, bercabang, menjalar, serta terdapat akar tunjang yang keluar di sekitar pangkal batang dan cabang. Pandan wangi memiliki jenis daun tunggal, duduk, dengan pangkal memeluk batang. Helaian daunnya berbentuk pita, tipis, licin, ujung runcing, tepi rata, bertulang sejajar, panjang 40 – 80 cm, lebar 3 – 5 cm, dan tepi daun berduri (Utami, 2008). Tanaman pandan wangi tumbuh di daerah tropis dan banyak ditanam di halaman atau kebun. Terkadang pandan wangi tumbuh liar di tepi sungai, tepi rawa, dan di tempat-tempat lembap, tumbuh subur dari daerah pantai sampai daerah dengan ketinggian 500 mdpl (Tahir, 2010).
Pandanus amaryllifolius Roxb. merupakan satu-satunya spesies Pandanus yang memiliki daun yang wangi. Tumbuhan ini dikenal dengan bau wangi yang khas, sehingga disebut fragrant screw pine (Nonato, et al, 2008). Aroma khas dari pandan wangi diduga karena adanya senyawa turunan asam amino fenil alanin yaitu 2acetyl-1-pyrroline (Faras, et al, 2014). Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam pandan wangi, diantaranya alkolida, saponin, flavonoid, tannin, polifenol, dan zat warna (Hariana, 2013). Menurut Hidayat, et al (2008), manfaat pandan wangi antara lain adalah sebagai bahan aroma, pewarna makanan, kosmetik, tanaman hias, bahan kerajinan tangan dan obat. Dalam pengobatan tradisional pandan berkhasiat untuk mengobati rematik, pegal linu, lemah syaraf, dan sebagai penenang atau mengatasi gelisah.
Sistematika taksonomi pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb)
adalah sebagai berikut: 
Kingdom : Plantae 
Divisio  : Spermatophyta 
Classis  : Monocotyledonae 
Ordo  : Pandanales 
Familia : Pandanaceae 
Genus  : Pandanus 
Spesies : Pandanus amaryllifolius Roxb (Tjitrosoepomo dalam Sukandar dkk, 2010)
Penamaan pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb) diberbagai daerah memiliki nama antara lain Pandan Rampe, Pandan Seungit, Pandan Room, Pandan Wangi (Jawa); Seuku Bangu, Seuku Musang, Pandan Jau, Pandan Berbau, Pandan Harum, Pandan Rempai, Pandan Wangi, Pandan Musang (Sumatera); Pondang, Pondan, Ponda, Pondago (Sulawesi); Kelamoni, Hao Moni, Keker Moni, Ormon Foni, Keker Moni, Ormon Foni, Pondak, Pondaki, Pudaka (Maluku); Pandan Arrum (Bali); Bonak (Nusa Tenggara) (Hariana, 2015).
 Pandan wangi mempunyai daun yang selalu hijau sepanjang tahun. Batangnya bulat, dapat tunggal atau bercabang-cabang dan mempunyai akar udara atau akar tunjang yang muncul pada pangkal batang. Helaian daun berbentuk pita, memanjang, tepi daun rata dan ujung daun meruncing. Daun berwarna hijau dan tersusun spiral, panjang 40-80 cm dan lebar 3-5 cm  (Hidayat, 2015). Tanaman ini merupakan tanaman perdu tahunan dengan tinggi 1 m. Bunga majemuk berbentuk bongkol dan berwarna putih. Buahnya berbentuk buah batu, menggantung, berbentuk bola dengan diameter 4-7,5 cm, dinding buah berambut dan warnanya jingga (Herbie, 2015) Tanaman pandan wangi dapat dengan mudah dijumpai di daerah tropis dan banyak ditanam di halaman, di kebun, di pekarangan rumah maupun tumbuh secara liar di tepi-tepi selokan yang teduh (Hariana, 2015). Selain itu, tumbuhan ini dapat tumbuh liar ditepi sungai, rawa, dan tempat-tempat lain yang tanahnyaagak lembab dan dapat tumbuh subur dari daerah pantai sampai di daerah dengan ketinggian 500 mdpl (di bawah permukaan laut) (Herbie, 2015).

Deskripsi Minyak Atsiri
Minyak atsiri adalah salah satu kandungan tanaman yang sering disebut “minyak terbang” (Inggris: volatile oils). Minyak atsiri dinamakan demikian karena minyak tersebut mudah menguap. Selain itu, minyak atsiri juga disebut essential oil (dari kata essence) karena minyak tersebut memberikan bau pada tanaman (Koensoemardiyah, 2010). Menurut Sulong (2006), minyak atsiri merupakan sebuah konsentrasi larutan yang terbentuk dari ratusan komponen beraroma dan berbahan organik, termasuk hormon, vitamin, dan beragam elemen alami lainnya. Bahan baku minyak ini diperoleh dari berbagai bagian tanaman seperti daun, bunga, buah, biji, kulit biji, batang, akar, atau rimpang (Rusli, 2010).
Komposisi Minyak Atsiri
Minyak atsiri tersusun atas beragam senyawa kimia, yakni Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), dan beberapa persenyawaan kimia seperti Nitrogen (N) dan Belerang (S). Namun komponen utama yang menyusun senyawa kimia dari minyak atsiri adalah Hidrokarbon dan Hidrokarbon beroksida.
Hidrokarbon
Golongan hidrokarbon dalam minyak atsiri terdiri dari turunan terpene, yakni monoterpene (C5H8)2, seskuiterpen (C5H8)3, diterpene (C5H8)4, dan politerpen, serta paraffin, olefin, dan hidrokarbon aromatik. Kandungan monoterpene dapat dibagi menjadi tiga golongan yang bergantung kepada struktur kimia seperti geraniol dan monosiklik misalnya limonene atau bisiklik misalnya α-pinen dan β-pinen (Guenther, 1987). Beroksigen (Oxygenated Hydrocarbon) (Ketaren, 1985). 
Hidrokarbon Beroksida (Orgenated Hydrocarbon)
Dalam komponen hidrokarbon berokosida, terdapat kandungan oksigen (oxygenated compound atau terpen-O) yang terdiri dari alkohol dan fenol, aldehid, keton, ester, dan eter (Guenther, 1987).
Sifat Minyak Atsiri
  1. Memiliki aroma yang khas. Umumnya aroma ini mewakili aroma tanaman penghasilnya. Aroma minyak atsiri satu dengan lainya berbeda-beda.
  2. Mempunyai rasa getir.
  3. Mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi. 
 4. Tersusun komponen senyawa hidrokarbon atau terpen dan kelompok persenyawaan yang mengandung oksigen (oxygenated compound atau terpen-O).
   5. Tidak tahan disimpan lama untuk minyak atsiri dari bahan bunga dan daun sedangkan minyak atsiri dari bahan berupa biji, kulit, akar, dan kayu lebih tahan disimpan lama.
    6.  Sangat mudah larut dalam pelarut organik.
    7. Tidak larut dalam air.

Minyak Atsiri Daun Pandan Wangi
Minyak atsiri daun pandan wangi merupakan minyak atsiri yang diperoleh dari daun pandan wangi (Pandanus amryllifolius Roxb.). Minyak atsiri daun pandan wangi dapat digunakan untuk aromaterapi memberikan efek penenang, obat, dan obat antidepresan. Manfaat daun pandan wangi yang dapat memberikan efek penenang, Puspitasari (2017) melakukan penelitian yang membuktikan bahwa pemberian ekstrak daun pandan wangi 10% dapat menurunkan durasi immobility time dan kadar kortisol tikus jantan galur wistar yang depresi. Aroma khas yang dimiliki daun pandan wangi banyak disukai dan banyak dimanfaatkan sebagai aroma terapi dalam industri spa. Aroma khas daun pandan wangi berasal dari kandungan kimia dan minyak atsiri daun pandan wangi itu sendiri.














DAFTAR PUSTAKA
Agustiningsih, Wildan, A. dan Mindaningsih. (2010). Optimasi cairan penyari pada pembuatan ekstrak daun pandan (Pandanus amarillyfolius Roxb) secara maserasi terhadap kadar fenolik dan flavonoid total. Momentum 6(2): 36–41.
Prameswari, O. M., dan Widjanarko, S. B., 2014, Uji Efek Ekstrak Air Daun Pandan Wangi Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Dan Histopatologi Tikus Diabetes Mellitus.Jurnal Pangan dan Agroindustri 2(2) : 16-27
Sukandar, D, S. Hermanto dan I.A. Mabrur. 2009. Aktivitas Senyawa Antidiabetes Ekstrak Etil Asetat Daun Pandan Wangi (Pandanus Amaryllifolius Roxb.). Jakarta : Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah
Sukandar, dkk. 2009. Uji Potensi Aktivitas Anti Kanker EkstrakDaun Pandan Wangi (Pandanusamaryllifolius Roxb.)Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).JKTI.11 (1): 32-38.
Margaretta,dkk. 2011. Ekstraksi SenyawaPhenolic Pandanus Amaryllifolius Roxb. sebagai Antioksidan Alami.Widya Teknik. 10(1): 21-30
Arisandi dan Andriani. 2008. Khasiat Berbagai Tanaman Untuk Pengobatan. Jakarta: Eksa Media.  Barbosa, D.S. 2007. Green Tea Polyphenolic  Compounds and Human Health. Journal of Consumer Protection and Food Safety.  2 :  407-413
Dalimartha, Setiawan. 2002. Obat Tradisional Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.).[Online]. Available at http://www.pdpersi.co.id. (verified 15 Juni 2017)


Jahe dan manfaatnya

https://drive.google.com/file/d/14PB3Y_TDQzTknWxtHGts_E8hd2f-kYA9/view?usp=drivesdk



Jahe
Zingiber officinale


Indonesia sangat kaya dengan sumber daya flora. Di Indonesia, terdapat sekitar 30.000 spesies tanaman, 940 spesies di antaranya dikategorikan sebagai tanaman obat dan 140 spesies di antaranya sebagai tanaman rempah. Dari sejumlah spesies tanaman rempah dan obat, beberapa di antaranya sudah digunakan sebagai obat tradisional oleh berbagai perusahaan atau pabrik jamu. Dalam masyarakat Indonesia, pemanfaatan obat tradisional dalam sistem pengobatan sudah membudaya dan cenderung terus meningkat. Salah satu tanaman rempah dan obat-obatan yang ada di Indonesia adalah jahe(Rukmana, 2000).
Menurut para ahli, jahe (Zingiber officinale Rosc.) berasal dari Asia Tropik, yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu, kedua bangsa itu disebutsebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe, terutama sebagai bahan minuman, bumbu masakan, dan obat-obatan tradisional. Belum diketahui secara pasti sejak kapan mereka mulai memanfaatkan jahe, tetapi mereka sudah  mengenal dan memahami bahwa minuman jahe cukup memberikan keuntungan bagi hidupnya (Santoso, 1994). Jahe (Zingiber officinale rosc) merupakan salah satu jenis tanaman yang termasuk kedalam suku Zingiberaceae. Nama “Zingiber” berasal dari bahasa Sansekerta “Singabera” dan Yunani “Zingiberi” yang berarti tanduk, karena bentuk rimpang jahe mirip dengan tanduk rusa. Officinale merupakan bahasa latin dari “Officina” yang berarti digunakan dalam farmasi atau pengobatan (Bermawie dan Purwiyanti dalam Sya’ban 2013). Tanaman Jahe (Zingiber officinale rosc) dalam dunia tanaman memiliki klasifikasi sebagai berikut :
Divisi  : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas  : Monocotyledoneae
Ordo  : Zingiberales
Famili  : Zingiberaceae
Genus  : Zingiber
Species : Zingiber officinale Rosc.
Famili Zingiberaceae terdapat disepanjang daerah tropis dan sub tropis terdiri atas 47 genus dan 1.400 species. Genus Zingiber meliputi 80 species yang salah satu diantaranya adalah jahe yang merupakan species paling penting dan paling banyak manfaatnya (Hapsoh, 2008 dalam Putri, 2014). Ada tiga jenis jahe, yaitu :
1. Jahe Putih Besar / Jahe Gajah
Varietas jahe ini banyak ditanam di sekitar masyarakat dan dikenal dengan nama “Zingiber officinale var officinarum”. Ukuran rimpangnya lebih besar dan gemuk jika dibandingkan jenis jahe lainnya. Jika diiris rimpang berwarna putih kekuninganRuas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bisa dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan (Hapsoh, 2008 dalam Putri, 2014).
2. Jahe Putih/Kuning Kecil/Jahe Emprit
Jahe ini dikenal dengan nama Latin “Zingiber officinale var amarum” memiliki rimpang dengan bobot berkisar antara 0,5 - 0,7 kg/rumpun. Struktur rimpang kecil-kecil dan berlapis. Daging rimpang berwarna putih kekuningan. Tinggi rimpangnya dapat mencapai 11 cm dengan panjang antara 6 - 30 cm dan diameter antara 3,27 - 4,05 cm. Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua (Hapsoh, 2008 dalam Putri, 2014).

3. Jahe Merah atau Jahe Sunti
Jahe merah/jahe sunti (Zingiber officinale var rubrum) memiliki rimpang dengan bobot antara 0,5 - 0,7 kg/rumpun. Struktur rimpang jahe merah, kecil berlapis-lapis dan daging rimpangnya berwarna kuning kemerahan, ukuran lebih kecil dari jahe kecil. Memiliki serat yang kasar. Rasanya pedas dan aromanya sangat tajam. Diameter rimpang 4,2 -4,3 cm dan tingginya antara 5,2 - 10,40 cm. Panjang rimpang dapat mencapai 12,39 cm. sama seperti jahe kecil, jahe merah juga selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang lebih tinggi dibandingkan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan (Setiawan, 2015: 23).

Manfaat jahe
Berkaitan dengan unsur kimia yang dikandungnya, jahe dapat dimanfaatkan dalam berbagai macam industri, antara lain sebagai berikut: industri minuman (sirup jahe, instan jahe), industri kosmetik (parfum), industri makanan (permen jahe, awetan jahe, enting-enting jahe), industri obat tradisional atau jamu, industri bumbu dapur (Prasetyo, 2003). Selain bermanfaat di dalam industri, hasil penelitian Kikuzaki dan Nakatani (1993) menyatakan bahwa oleoresin jahe yang mengandung gingerol memiliki daya antioksidan melebihi α tokoferol, sedangkan hasil penelitian Ahmed et al., (2000) menyatakan bahwa jahe memiliki daya antioksidan yang sama dengan vitamin C.
Rimpang jahe mengandung 1-3% minyak atsiri yang terdiri atas fulandren, d-kamfen, zingiberen, dan zingiberon (Tjitrosoepomo, 1994). Kandungan lain yang terkandung di dalam rimpang jahe adalah zingiberol berupa minyak atsiri serta senyawa oleoresin (dengan komponen zingerol, zingerone, shogoal, resin, asiri), dan pati. Jahe segar dan kering banyak digunakan sebagai pemberi aroma. Jahe muda digunakan sebagai lalab, jahe asin, sirup, atau jahe kristal. Sebagai obat tradisional, jahe sering digunakan untuk mengatasi influenza, batuk, luka lecet dan luka tikam, dan gigitan ular, selain itu, jahe dapat digunakan sebagai obat penambah nafsu makan, memperkuat lambung, dan memperbaiki pencernaan (Paimin dan Murhananto, 1999). Jahe yang mengandung gingerol dapat dimanfaatkan sebagai obat antiinflamasi, obat nyeri sendi dan otot karena reumatik, tonikum, serta obat batuk (Syukur, 2002).
Manfaat-manfaat jahe menurut Setiawan (2015) adalah sebagai berikut :
  1. Peluruh dahak atau obat batuk, peluruh keringat, peluruh haid, pencegah mual, dan penambah nafsu makan
  2. Antiseptik, circulatory stimulant, diaphoretic, peripheral vasolidator. 
  3. Menghangatkan badan.
  4. Minyak atsirinya mempunyai efek antiseptik, antioksidan dan mempunyai aktivitas terhadap bakteri dan jamur.
  5. Secara tradisional digunakan untuk obat sakit kepala, gangguan saluran pencernaan, stimulansia, diuretik, rematik, menghilangkan rasa sakit, mabuk perjalanan, dan sebagai obat luar untuk mengobati gatal-gatal akibat gigitan serangga, keseleo, bengkak, serta memar.
  6. Jahe mengandung bahan antioksidan di antaranya senyawa flavonoid dan polifenol, asam oksalat dan vitamin C. Antioksidan ini dapat mebantu menetralkan efek merusak yang diakibatkan oleh radikal bebas dalam tubuh.
  7. Melindungi system pencernaan dengan menurunkan keasaman lambung dan menghambat terjadinya iritasi pada saluran pencernaan, hal ini karena jahe mengandung senyawa aseton dan methanol.


















DAFTAR PUSTAKA

Chandarana, H., Baluja S. dan Sumitra V. C. 2004. Comparison Of Antibacterial Activities Of Selected Species Of Zingiberaceae Family And Some Synthetic Compounds. Saurashtra University, India, Turk J Biol 29 (2005) 83-97
Hasyim, N. 2009. Kajian Kerusakan Minyak  dengan Penambahan Ekstrak Jahe (Zingiber Officinale Roscoe) Selama Penyimpananan. Skrikpsi Fakultas Pertanian. UNS. Surakarta.   
Yurhamen. 2002. Uji Aktivitas Anti Mikroba Minyak Atsiri dan Ekstrak Metanol Lengkuas (Alpinia galanga). Jurusan Kimia FMIPA Universitas Riau. Riau.
Zakaria et al., 2000. Pengaruh Konsumsi Jahe (Zingiber officinale Roscoe) Terhadap Kadar Malonaldehida dan Vitamin E Plasma Pada Mahasiswa Pesantren Ulil Albaab Kedung Badak, Bogor. Buletin Teknologi dan Industri Pangan, Vol. XI, No. 1, Th. 2000. IPB. Bogor.












Daun Sirih dan manfaatnya

https://drive.google.com/file/d/12y1u-gbw4YBAg6rYrXoYwx2QcTq4r8G8/view?usp=drivesdk


DAUN SIRIH
(Piper betle Linn)



Tanaman sirih (Piper betle Linn.) adalah tanaman yang memiliki khasiat antibakteri dan merupakan salah satu tanaman asli di Indonesia. Efek antibakteri dari tanaman sirih hijau dikarenakan kandungan minyak atsiri dari daun sirih hijau yang komponen utamanya terdiri atas fenol dan beberapa turunan diantaranya adalah euganol dan kavikol. Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri golongan Coliform, serta merupakan flora normal yang berada pada tubuh manusia, tapi dapat menjadi pathogen pada kondisi tertentu dapat merugikan karena merupakan salah satu bakteri penyebab penyakit diare.
Daun sirih di Indonesia mempunyai nama yang berbeda–beda sesuai dengan nama daerahnya masing-masing, yaitu si ureuh (Sunda); sedah, suruh Jawa); sirih (Sampit); ranub (Aceh); cambia (Lampung); base seda (Bali) (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).

Daun sirih bisa digunakan sebagai antiseptik. Kandungan kimia dari tanaman sirih ialah saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri. Senyawa saponin dapat bekerja sebagai antimikroba. Senyawa ini akan merusak membran sitoplasma dan membunuh sel. Senyawa flavonoid diduga memiliki mekanisme kerja mendenaturasi protein sel bakteri dan merusak membran sel tanpa dapat diperbaiki lagi.
Daun sirih mempunyai aroma yang khas karena mengandung minyak atsiri 1- 4,2%, air, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, vitamin A, B, C, yodium, gula dan pati. Dari berbagai kandungan tersebut, dalam minyak atsiri terdapat fenol alam yang mempunyai daya antiseptik 5 kali lebih kuat dibandingkan dengan fenol biasa (bakterisid dan fungisid) tetapi tidak sporasid. Minyak atsiri dari daun sirih mengandung 30% fenol dan beberapa derivatnya. Minyak atsiri terdiri dari hidroksi kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metileugenol, karbakrol, terpen, seskuiterpen, fenilpropan, dan tannin, Kavikol merupakan komponen paling banyak dalam minyak atsiri yang memberi bau khas pada sirih. Kavikol bersifat mudah teroksidasi dan dapat menyebabkanperubahan warna. Daun sirih adalah tanaman yang memiliki beberapa kandungan kimia antara lain saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri. Kandungan saponin dan flavonoid berkhasiat sebagai obat batuk (Widyastuti, 2001).
Pada pemakaian tradisional, daun sirih digunakan dengan cara direbus dahulu, kemudian diminum sarinya. Maka dari itu untuk meningkatkan kenyamanan dan kemudahan pemakaian daun sirih, pada penelitian ini dibuat tablet hisap dari ekstrak daun sirih. Tablet hisap dimaksudkan untuk dikulum dan dihisap pelan-pelan, yang membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut. Umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis. Salah satu komponen penting dalam pembuatan tablet hisap adalah bahan pengikat. Bahan pengikat berpengaruh terutama pada kekerasan tablet dimana tablet hisap harus memiliki kekerasan yang lebih besar dari tablet-tablet pada umumnya. Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai bahan pengikat adalah polivinil pirolidon. PVP banyak digunakan untuk pembuatan granul, dengan keuntungan dapat berfungsi sebagai bahan pengikat yang larut pada air atau alkohol, mempunyai kemampuan sebagai pengikat kering, hasil granul dapat kering dan menghasilkan tablet yang bagus (Lachman dkk., 1994).
 PVP telah digunakan secara luas sebagai tambahan, terutama pada sediaan tablet oral dan solution. Jika dikonsumsi secara oral, PVP dianggap non toksik karena tidak diabsorbsi dari saluran pencernaan atau membran mukus. PVP berfungsi sebagai bahan pengikat dengan kadar 0,5-5% (Rowe dkk., 2006). PVP berpengaruh terhadap sifat fisik tablet hisap meliputi kekerasan tablet hisap, kerapuhan tablet hisap, dan waktu larut tablet hisap.
Daun sirih juga memiliki efek antibakteri terhadap Streptococcus mutans, Streptococcus sanguins, Streptococcus viridans, Actinomyces viscosus, dan Staphylococcus aureus.
 Tanaman sirih (Piper betle L.) sudah lama digunakan sebagai obat sejak dulu. Bagian tanaman yang digunakan adalah daunnya, kandungan daun sirih antara lain saponin, polifenol, minyak atsiri, dan flavonoid. Selain itu daun sirih juga mempunyai khasiat sebagai obat batuk (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991)
Umumnya masyarakat menggunakan daun sirih seperti biasa masih dalam cara yang sederhana, mulai dari penggunaannya yang harus direbus dahulu, kemudian diminum sarinya. Cara penggunaan ini dirasa kurang  praktis, maka dari itu diperlukan inovasi baru untuk meningkatkan kenyamanan dan kemudahan dalam penggunaan, diantaranya dibuat sediaan tablet. Salah satu bentuk sediaan tablet adalah tablet hisap. Tablet hisap adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis, yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut (Departemen RI, 1995). 
Keuntungan tablet hisap antara lain tablet hisap memiliki rasa manis, mudah dalam penggunaan, ketepatan dosis, memberikan efek lokal, dan tidak diperlukan air minum untuk menggunakannya. Pada pembuatan tablet diperlukan beberapa zat tambahan diantaranya bahan pengikat. Dalam pembuatan tablet ini digunakan Polivinil Pirolidon dengan berbagai konsentrasi. PVP banyak digunakan untuk pembuatan granul, dengan keuntungan dapat berfungsi sebagai bahan pengikat yang  larutan air atau alkohol, mempunyai kemampuan sebagai pengikat kering, hasil granul dapat kering, dan menghasilkan tablet yang bagus (Lachman dkk., 1994).
Polivinil Pirolidon telah digunakan secara luas sebagai tambahan, terutama pada sediaan tablet oral dan solution. Jika dikonsumsi secara oral, Polivinil Pirolidon dianggap non toksik karena tidak diabsorbsi dari saluran pencernaan atau membran mukus (Rowe dkk., 2006).
 Tablet hisap mempunyai kekerasan yang lebih dibandingkan dengan tablet biasa, sehingga diperlukan bahan pengikat untuk meningkatkan kekerasaan.Oleh karena itu perlu diperlukan penelitian mengenai pengaruh variasi kadar PVP sebagai bahan pengikat terhadap sifat fisik tablet hisap ekstrak daun sirih ( Piper betle L.).
ü  Klasifikasi Tanaman Sirih (Piper betle L.) 
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Piperales
Familia : Piperaceae
Spesies : Piper betle L. (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
ü  Morfologi Tanaman Sirih (Piper betle L.) 
Tanaman sirih merupakan tanaman yang tumbuh memanjat, tinggi 5 cm-15 cm. Helaian daun berbentuk bundar telur atau bundar telur lonjong. Pada bagian pangkal berbentuk jantung atau agak bundar, tulang daun bagian bawah gundul atau berbulu sangat pendek, tebal berwarna putih, panjang 5-18 cm, lebar  2,5 -  10,5 cm. Daun pelindung berbentuk lingkaran, bundar telur sungsang atau lonjong panjang kira-kira 1 mm. Perbungaan berupa bulir, sendiri-sendiri di ujung cabang dan berhadapan dengan daun. Bulir bunga jantan, panjang gaggang 1,5 - 3 cm, benang sari sangat pendek. Bulir bunga betina, panjang gaggang 2,5 – 6 cm, kepala putik 3 – 5. Buah Buni, bulat dengan ujung gundul. Bulir masak berbulu kelabu, rapat, tebal 1– 1,5 cm. Biji berbentuk bulat (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
ü  Kandungan Kimia Daun Sirih (Piper betle L.) 
Kandungan kimia daun sirih antara lain saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri (Syamshidayat dan Hutapea, 1991)
ü  Kegunaan Daun Sirih (Piper betle L.) 
Daun Sirih mempunyai khasiat sebagai obat batuk, obat bisul, obat sakit mata, obat sariawan, obat hidung berdarah (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
ü  Tinjauan Tentang Ekstrak
a. Pengertian Tentang Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simlisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan.  Pembuatan ekstrak dimaksudkan agar zat berkhasiat yang terdapat dalam simplisia terdapat dalam bentuk yang mempunyai kadar tinggi dan hal ini memudahkan zat berkhasiat dapat diatur dosisnya (Departemen RI, 1995).
b. Pembagian Ekstrak
Berdasarkan atas sifatnya ekstrak dapat dikelompokkan menjadi 3:
1) Ekstrak encer (extractum tennue) Sediaan ini memiliki konsentrasi seperti madu dan dapat dituang.
2) Ekstrak kental (extractum spissum) Sediaan ini liat dalam keadaan dingin dan tidak dapat dituang.
 3) Ekstrak kering (extractum siccum) Sedian ini memiliki konsentrasi kering dan mudah digosokkan, melalui penguapan cairan pengekstraksi dan pengeringan sisanya akan terbentuk suatu produk yang sebaliknya memiliki kandungan lembab tidak lebih dari 5 % (Voigt, 1984).
c. Penyarian
Penyarian merupakan proses perpindahan massa zat aktif yang semula  berada dalam sel ditarik oleh cairan penyari sehingga zat aktif larut dalam cairan penyari.  Kriteria cairan penyari yang baik haruslah memenuhi syarat antara lain murah dan mudah didapat, stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap, dan tidak mudah terbakar, selektif yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki, dan tidak mempengaruhi zat berkhasiat (Anonim, 1986). 
3. Metode Pembuatan Ekstrak
a. Maserasi
Maserasi merupakan proses perendaman sampel menggunakan pelarut organik pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam karena dengan perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel, sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama perendaman yang dilakukan untuk proses maserasi akan memberikan efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam dalam pelarut tersebut (http://wikipedia, 2009). 
b. Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara gaya, berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi osmosis, adhesi, dan daya kapiler  (Anonim, 1986).
c. Sohkletasi
Sohkletasi merupakan penyempurnaan alat ekstrasi. Uap cairan penyari naik ke atas melalui pipa samping, kemudian diembunkan kembali dengan pendingin tegak. Cairan turun ke labu melalui tabung berisi serbuk simplisia. Adanya sifon mengakibatkan seluruh cairan akan kembali ke labu (Anonim, 1986).
4. Tinjauan Tentang Tablet
a. Tablet
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obatdengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan, dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa (Anonim, 2005).
Bentuk sediaan tablet mempunyai keuntungan yang meliputi ketepatan dosis, praktis dalam penyajian, biaya produksi yang murah, mudah dikemas, tahan dalam penyimpanan, mudah dibawa, serta bentuk yang memikat (Lachman dkk., 1994).
b. Tablet Hisap
Tablet hisap adalah adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis, yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut (Departemen RI, 1995).
Troches dan lozenges adalah dua nama yang umum digunakan untuk menyebut tablet hisap pada mulanya lozenges dinamakan pastiles. Troches dan lozenges biasanya dibuat dengan menggabungkan obat dalam suatu bahan dasar kembang gula yang keras dan beraroma menarik (Gunsel dan Kanig, 1976).
Tablet hisap mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan beraroma manis yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan di mulut. Kandungan gula dan gom yang tinggi menghasilkan larutan yang lengket di mulut yang dapat menyebabkan pengobatan tetap berada pada permukaan yang terkena. Bahan flavour biasanya ditambahkan pada gula berupa minyak menguap (Cooper dan Gunn, 1975).
Tablet hisap digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi rongga mulut dan ruang rahang. Sebagian obatnya didominasi oleh antiseptika, desinfektansia, anestetika lokal, dan ekspektoransia (Voigt, 1984). 5. Metode Pembuatan Tablet Hisap
Ada dua metode dalam pembuatan tablet hisap, yaitu :
a. Metode Peleburan 
Tablet hisap yang diproduksi dengan cara peleburan disebut dengan lozenges, biasanya dibuat dengan peleburan atau dengan proses penuangan kembang gula (pastiles) (Gunsel dan Kanig, 1975).
b. Metode Pengempaan / kompres
Tablet hisap yang diproduksi dengan cara pengempaan atau kompres disebut dengan troches (Lachman dkk., 1994). Metode pengempaan atau kompres dibagi menjadi tiga, yaitu :
1) Metode Granulasi Basah (wet granulation)
Metode granulasi basah adalah metode yang banyak digunakan untuk produksi tablet kompresi. Langkah-langkah yang diperlukan dalam metode ini adalah sebagai berikut :
a) Menimbang dan mencampur bahan-bahan
b) Pembuatan granulasi basah
c) Pengayakan adonan lembab menjadi pelet atau granul
d) Pengeringan
e) Pengayakan kering
f) Pencampuran bahan pelincir dan pencampuran
g) Pembuatan tablet dengan kompresi (Ansel dkk., 2005).     
Keuntungan granulasi basah :
a) Meningkatkan kohesivitas dan kompaktibilitas serbuk.
b) Zat aktif yang kompaktibilitasnya rendah dalam dosis yang tinggi harus dibuat dengan metode granulasi basah.
c) Zat aktif yang larut air dalam dosis kecil, maka distribusi dan keseragaman zat aktif akan lebih baik kalau dicampurkan dengan larutan bahan pengikat.
d) Sistem granulasi basah dapat mencegah segregasi komponen penyusun tablet yang telah homogen sebelum proses pencampuran.
e) Zat-zat yang bersifat hidrofob, sistem granulasi basah dapat memperbaiki kecepatan pelarutan zat aktif dengan perantara cairan pelarut yang cocok pada bahan pengikat (Sheth dkk., 1980).
2) Metode Granulasi Kering (dry granulation)
Metode granulasi kering ini molekul air yang ada pada setiap molekul asam sitrat bertindak sebagai unsur penentu bagi pencampuran serbuk. Sebelum serbukserbuk dicampur atau diaduk, kristal asam sitrat dijadikan serbuk, baru dicampur dengan serbuk-serbuk lainnya atau setelah disalurkan lewat ayakan no. 60 untuk memantapkan keseragaman atau meratanya pencampuran. Ayakan dan alat pengaduk harus terbuat dari stainless steel atau bahan lain yang harus tahan terhadap pengaruh asam. Mencampur atau mengaduk serbuk-serbuk ini dilakukan cepat dan lebih baik di lingkungan yang kadar kelembabannya rendah untuk mencegah terhisapnya uap-uap air dari udara oleh bahan-bahan kimia dan oleh reaksi kimia yang terjadi lebih dini. Setelah pengadukan selesai, serbuk diletakkan dalam sebuah oven atau pemanas lainnya yang sesuai dan sebelumnya oven ini dipanaskan pada suhu 33,8-40˚C. Selama proses pembuatan serbuk dibolak-balik dengan memakai spatel tahan asam. Panas menyebabkan lepasnya air kristal dari
asam sitrat, dimana yang pada gilirannya melarutkan sebagian campuran serbuk, memacu reaksi kimia, dan berakibat melepaskan beberapa karbondioksida. Ini menyebabkan bahan serbuk yang dihaluskan menjadi agak seperti spon. Setelah mencapai kepadatan yang tepat (seperti roti pada adonan roti), serbuk ini dikeluarkan dari oven dan dialirkan melalui suatu ayakan tahan asam untuk membuat granul-granul sesuai yang diinginkan. Ayakan no. 4 dapat dipakai untuk membuat granul yang lebih besar, ayakan no. 8 untuk membuat granul dengan ukuran sedang, dan ayakan no. 10 untuk membuat granul dengan ukuran kecil. Jika semua adonan telah melalui ayakan, granul-granul ini segera dikeringkan pada suhu tidak lebih dari 54˚C dan segera dipindahkan ke wadah kemudian disimpan secara cepat dan rapat (Ansel dkk., 2005).


Sirsak dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

TANAMAN SIRSAK (Annona muricata Linn) https://drive.google.com/file/d/10R_gWdg5TIiO...