SERAI WANGI
(Cymbopogon
nardus (L.)Rendle)
Tanaman serai wangi termasuk golongan rumput-rumputan
yang disebut Andropogon nardus atau Cymbopogon nardus. Genus ini meliputi
hampir 80 species, tetapi hanya beberapa jenis yang menghasilkan minyak atsiri
yang mempunyai arti ekonomi dalam dunia perdagangan (Hieronymus,1992).
Serai wangi merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan di
pekarangan dan sela sela tumbuhan lain. Biasanya serai wangi ditanam sebagai
tanaman bumbu atau tanaman obat. Seraiwangi di Indonesia ada 2 jenis yaitu
Mahapengiri dan Lenabatu (Ketaren dan Djatmiko,1978).
Jenis mahapengiri mempunyai ciri-ciri daunnya lebih lebar
dan pendek, disamping itu menghasilkan minyak dengan kadar sitronellal 30-45%
dan geraniol 6590%. Jenis lenabatu menghasilkan minyak dengan kadar sitronellal
7-15% dan geraniol 55-65% (Wijoyo, 2009).
Kedudukan
taksonomi tanaman serai menurut Ketaren (1985) yaitu :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Trachebionta
Divisi :
Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas :
Monocotyledonae
Sub Kelas :
Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus :
Cymbopogon
Species :
Cymbopogon nardus(L.)Rendle
Kandungan
Serai Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle)
Kandungan kimia yang terdapat di dalam tanaman seraiwangi
antara lain mengandung 0,4% minyak
atsiri dengan komponen yang terdiri dari sitral, sitronelol (66-85%), α-pinen,
kamfen, sabinen, mirsen,β-felandren, psimen, limonen, cis-osimen, terpinol,
sitronelal, borneol, terpinen-4-ol, αterpineol, geraniol, farnesol, metil
heptenon, n-desialdehida, dipenten,
metil heptenon, bornilasetat, geranilformat, terpinil asetat, sitronelil
asetat, geranil asetat, β-elemen, β-kariofilen, β-bergamoten, trans- metilisoeugenol,
β- kadinen, elemol, kariofilen oksida (Anonim, 1984; Anonim, 1985; dan Rusli
dkk., 1979 dalam Kristiani, 2013).
Dari berbagai tanaman obat yang ada, sereh wangi
(Cymbopogon nardus L.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak
manfaat. Hasil penyulingan daun dan batang sereh wangi diperoleh minyak atsiri
yang dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Citronella Oil.
Minyak sereh wangi diketahui memiliki potensi senyawa
untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang berdampak pada penyakit-penyakit
infeksi bakteri. Menurut Burdock (2002) senyawa utama minyak sereh wangi adalah
sitronellal, geraniol dan sitronellol. Dalam fraksi minyak atsiri dari tanaman
C. winterianus/nardus terdapat senyawa sitronelal, sitronelol, limonene,
linalool (Lorenzo et al., 2000).
DAFTAR
PUSTAKA
Ani Sjahazman .1970. Penyulingan
Minyak Sereh. Dep. THP, Fateta-IPB, Bogor.
Bambang Djatmiko, dan S. Kataren.1980. Analisa Fisiko Minyak Atsiri.
Fateta-IPB, Bogor.
Hobir, Emmyzar, 2002, Perkembangan
Teknologi Produksi Minyak Atsiri Indonesia. Balai Penelitian Tanaman Rempah
dan Obat, Bogor.
Rusli, S, N
Nurdjanah, Soediarto, D Sitepu, S Ardi, DT Sitorus, 1985, Penelitian dan Pengembangan
Minyak Atsiri Indonesia. Edisi Khusus Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Vol.
I No. 2, Balitro, Bogor.
Susetyo, R, Reny Haryati. 2008. Kiat
Hasilkan Sereh Wangi Kualitas Atas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Suprianto. 2008. Potensi
Ekstrak Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.) Sebagai Anti Streptococcus mutans.
IPB. Bogor.
Wijayakusuma, H.M.H. 2001. Tumbuhan berkhasiat obat Indonesia: rempah, rimpang, dan umbi. Jakarta:
Milenia populer.