KUNYIT
(Curcuma domestica
Val.)
Kunyit
merupakan tanaman obat berupa semak yang tersebar di seluruh daerah tropis.
Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan
berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 mdpl, ada juga yang mengatakan
bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum
dan Yunani Karkom. Pada tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini
sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi
tidak beracun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di
India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina.
Batang Kunyit
memiliki batang semu yang tersusun dari kelopak atau pelepah daun yang saling
menutupi. Batang kunyit bersifat basah karena mampu menyimpan air dengan baik,
berbentuk bulat dan berwarna hijau keunguan. Tinggi batang kunyit mencapai 0,75
– 1m (Winarto, 2004).
Daun kunyit tersusun dari pelepah daun, gagang daun dan
helai daun. Panjang helai daun antara 31 – 83 cm. lebar daun antara 10 – 18 cm.
daun kunyit berbentuk bulat telur memanjang dengan permukaan agak kasar.
Pertulangan daun rata dan ujung meruncing atau melengkung menyerupai ekor.
Permukaan daun berwarna hijau muda. Satu tanaman mempunyai 6 – 10 daun (Winarto,
2004).
Bunga kunyit berbentuk kerucut runcing berwarna putih
atau kuning muda dengan pangkal berwarna putih. Setiap bunga mempunyai tiga
lembar kelopak bunga, tig lembar tajuk bunga dan empat helai benang sari. Salah
satu dari keempat benang sari itu berfungsi sebagai alat pembiakan. Sementara
itu, ketiga benang sari lainnya berubah bentuk menjadi heli mahkota bunga
(Winarto, 2004).
Rimpang kunyit bercabang – cabang sehingga membentuk
rimpun. Rimpang berbentuk bulat panjang dan membentuk cabang rimpang berupa
batang yang berada didalam tanah. Rimpang kunyit terdiri dari rimpang induk
atau umbi kunyit dan tunas atau cabang rimpang. Rimpang utama ini biasanya
ditumbuhi tunas yang tumbuh kearah samping, mendatar, atau melengkung. Tunas
berbuku – buku pendek, lurus atau melengkung. Jumlah tunas umunya banyak.
Tinggi anakan mencapai 10,85 cm (Winarto, 2004).
Warna kulit rimpang jingga kecoklatan atau berwarna
terang agak kuning kehitaman. Warna daging rimpangnya jingga kekuningan
dilengkapi dengan bau khas yang rasanya agak pahit dan pedas. Rimpang cabang
tanaman kunyit akan berkembang secara terus menerus membentuk cabang – cabang
baru dan batang semu, sehingga berbentuk sebuah rumpun. Lebar rumpun mencapai
24,10 cm. panjang rimpang bias mencapai 22,5 cm. tebal rimpang yang tua 4,06 cm
dan rimpang muda 1,61 cm. rimpang kunyit yang sudah besar dan tua merupakan
bagian yang dominan sebagai obat (Winarto, 2004).
Kandungan senyawa kimia utama yang terkandung dalam
kunyit adalah kurkuminoid atau zat warna, yakni sebanyak 2,5 – 6%. Pigmen
kurkumin inilah yang memberi warna kuning orange pada rimpang (Winarto, 2004).
Salah satu fraksi yang terdapat dalam kurkuminoid adalah
kurkumin. Komponen kimia yang terdapat didalam rimpang kunyit diantaranya
minyak atsiri, pati, zat pahit, resin, selulosa dan beberapa mineral. Kandungan
minyak kunyit sekitar 3 – 5%. Disamping itu, kunyit juga mengandung zat warna
lain, seperti monodesmetoksikurkumin dan biodesmetoksikurkumin, setiap rimpang
segar kunyit mengandung ketiga senyawa ini sebesar 0,8% (Winarto, 2004).
Kunyit memiliki efek farmakologis seperti, melancarkan
darah dan vital energi, menghilangkan sumbatan peluruh haid, antiradang
(anti–inflamasi), mempermudah persalinan, antibakteri, memperlancar pengeluaran
empedu (kolagogum), peluruh kentut (carminative)dan pelembab (astringent)
(Said, 2007). Kunyit mempunyai khasiat sebagai jamu dan obat tradisional untuk
berbagai jenis penyakit, senyawa yang terkandung dalam kunyit (kurkumin dan
minyak atsiri) mempunyai peranan sebagai antioksidan, antitumor dan antikanker,
antipikun, menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam darah dan hati,
antimikroba, antiseptic dan antiinflamasi(Hartati & Balittro, 2013).
Kunyit mengandung curcumin yang dapat mempercepat
penyembuhan luka. Curcumin dapat meningkatkan re – epitelialisasi, menekan
radang, meningkatkan densitas kolagen jaringan serta meningkatkan proliferasi
dari fibroblast (Partomuan, 2009). Sifat kunyit yang dapat menyembuhkan luka
sudah dilaporkan sejak tahun 1953. Hasil penelitian menunjukkan, dengan kunyit
laju penyembuhan luka meningkat 23,3% pada kelinci dan 24,4% pada tikus (Ide,
2011). Pemberian kurkumin secara oral juga efektif dapat mengurangi inflamasi
pada binatang percobaan. Oleh karena itu kunyit sering digunakan sebagai
antiseptic, obat luka dan obat berbagai jenis infeksi serta penyakit kulit
lainnya (Hartati & Balittro, 2013).
Di daerah Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan
jamu karena berkhasiat menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan
gatal, dan menyembuhkan kesemutan. Manfaat utama tanaman kunyit, yaitu: sebagai
bahan obat tradisional, bahan baku industri jamu dan kosmetik, bahan bumbu
masak, peternakan dll. Disamping itu rimpang tanaman kunyit itu juga bermanfaat
sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti
tumor, dan menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih
darah.
Tanaman kunyit dapat tumbuh baik pada daerah yang
memiliki intensitas cahaya penuh atau sedang, sehingga tanaman ini sangat baik
hidup pada tempat-tempat terbuka atau sedikit naungan. Pertumbuhan terbaik
dicapai pada daerah yang memiliki curah hujan 1000-4000 mm/tahun. Bila ditanam
di daerah curah hujan < 1000 mm/tahun, maka system pengairan harus
diusahakan cukup dan tertata baik. Tanaman ini dapat dibudidayakan sepanjang
tahun. Pertumbuhan yang paling baik adalah pada penanaman awal musim hujan. Suhu
udara yang optimum bagi tanaman ini antara 19-30 oC.
Kunyit tumbuh subur pada tanah gembur, pada tanah yang
dicangkul dengan baik akan menghasilkan umbi yang berlimpah. Jenis tanah yang
diinginkan adalah tanah ringan dengan bahan organik tinggi, tanah lempung
berpasir yang terbebas dari genangan air/sedikit basa.
Tanaman kunyit siap dipanen pada umur 8 -18 bulan, saat
panen yang terbaik adalah pada umur tanaman 11-12 bulan, yaitu pada saat
gugurnya daun kedua. Saat itu produksi yang diperoleh lebih besar dan lebih
banyak bila dibandingkan dengan masa panen pada umur kunyit 7 -8 bulan.
Ciri-ciri tanaman kunyit yang siap panen ditandai dengan berakhirnya
pertumbuhan vegetatif, seperti terjadi kelayuan/perubahan warna daun dan batang
yang semula hijau berubah menjadi kuning (tanaman kelihatan mati).
Panen kunyit dilakukan dimusim kemarau karena pada saat
itu sari/zat yang terkandung didalamnya mengumpul. Selain itu kandungan air
dalam rimpang sudah sedikit sehingga memudahkan proses pengeringannya.
Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan
sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 -
5 hari, atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari
dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling
menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali
agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yang lembab
dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di
dalam oven dilakukan pada suhu 50oC - 60oC. Rimpang yang akan dikeringkan
ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk.
Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang dihasilkan
Dewasa ini rata-rata
Tingkat kebutuhan pasar dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kebutuhan
lebih tinggi pada saat menjelang hari-hari besar/hari raya. Permintaan kebutuhan
industri di atas sebagian besar berasal dari pasokan para petani. Melihat dari
kebutuhan rata
rata industri jamu dan kosmetik yang ada di dalam negeri,
suplai dan permintaan terhadap kunyit tidak seimbang, apalagi memenuhi
permintaan pasar luar negeri. Sementara kebutuhan kunyit dunia hingga saat ini
mencapai ratusan ribu ton/tahun. Sebagian kecil dari jumlah tersebut dipenuhi
oleh negara India, Haiti, Srilanka, Cina, dan negara-negara lainnya. Indonesia
kini sudah selayaknya membudidayakan tanaman ini, terutama dengan sistem
monokultur/tumpang sari sehingga produksi yang dicapai lebih cepat dan tinggi,
agar kebutuhan minimal dalam negeri terpenuhi secara optimal. Walaupun di
daerah Jawa Tengah kini sudah diupayakan sistem penanaman tersebut, juga diperhitungkan
dari sudut produktivitas dan jalur tata niaganya, namun luas lahan tanam yang
ada belum maksimal untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri yang mencapai
ratusan ribu ton/hanya. Indonesia sebenarnya mulai mengekspor kunyit.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous.
1994. Hasil Penelitian Dalam Rangka Pemanfaatan Pestisida Nabati. Prosiding
Seminar di Bogor 1 – 2 Desember 1993.
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.
Bogor. 311 Hal. 2)
2)
Anonimous. 1989. Vademekum Bahan Obat Alam. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta. 411 Hal.3)
Darwis
SN. 1991. Tumbuhan obat famili Zingiberaceae. Bogor, Puslitbang Tanaman
Industri: 39-61. Kartasapoetra,
G. 1992. Budidaya tanaman berkhasiat obat: kunyit (kunir). Jakarta, PT. Rineka
Cipta: 60
Kloppenburg-Versteegh,
J. 1988. Petunjuk lengkap mengenai tanamantanaman di Indonesia dan khasiatnya
sebagai obat-obatan tradisional (kunir atau kunyit-Curcuma domestica Val.).
Jilid 1: bagian Botani. Yogyakarta, CD.RS. Bethesda: 102-103.
Moko,
Hidayat; Mulyoto; Ismiyatiningsih. 1993. Pengaruh beberapa zat pengatur tumbuh
dan mulsa terhadap pertumbuhan tanaman kunyit. Buletin Pertanian Tanaman Rempah
dan Obat, 8 (1) 1993: 30-38.
Muhlisah,
Fauziah. 1996. Tanaman obat keluarga (toga): kunyit. Cet.2. Jakarta, Penebar
Swadaya: 40-41.
Nugroho,
Nurfina A. 1998. Manfaat dan prospek pengembangan kunyit. Ungaran,Trubus
Agriwidya. 86 hal.
Soedibyo,
BRA Mooryati. 1998. Alam sumber kesehatan, manfaat dan kegunaan: kunyit. Cet.1.
Jakarta, Balai Pustaka: 230-231.
Wijayakusuma, H.M. Hembing; Dalimartha, Setiawan; Wirian,
A.S. 1992. Tanaman berkhasiat obat di Indonesia: kunyit; Curcuma longa Linn
(Jiang Huang). Jilid 4. Jakarta, Pustaka Kartini: 93-94.
Wiroatmodjo, Joedojono; Lontoh, A.P.; Nurdin. 1993.
Kajian pemberian pupuk kandang dan tingkat populasi terhadap pertumbuhan
produksi kunyit (Curcuma domestica Val.) yang ditumpangsarikan dengan jagung
manis (Zea mays Soccharata). Buletin Agronomi, 21 (2) 1993: 59-63. Jakarta.
sangat bermanfaat dan berguna
ReplyDelete